Bagi para perenang di wilayah paling barat Indonesia, Sabang, tantangan berlatih tidak hanya datang dari disiplin waktu, tetapi juga dari kondisi fisik yang harus selalu dijaga di tengah cuaca yang kadang ekstrem. Salah satu risiko cedera yang paling ditakuti karena potensinya yang bisa menghentikan karier adalah Robek Rotator Cuff. Otot-otot rotator cuff adalah sekumpulan tendon dan otot yang menyatukan tulang lengan atas dengan tulang belikat. Kerusakan pada bagian ini sering kali bermula dari peradangan kecil yang diabaikan, hingga akhirnya berkembang menjadi robekan parsial maupun total yang sangat menyakitkan.
Kondisi ini memerlukan kewaspadaan tinggi bagi para Perenang yang sering melakukan gaya kupu-kupu atau gaya bebas dengan intensitas tinggi. Gejala awal biasanya muncul berupa rasa lemah saat mengangkat tangan atau bunyi “klik” yang tidak biasa pada sendi bahu. Jika tidak segera ditangani, robekan ini dapat menyebabkan hilangnya kekuatan secara permanen dan nyeri hebat di malam hari. Tim kesehatan di Sabang menekankan bahwa pencegahan jauh lebih murah dan mudah dibandingkan proses pembedahan dan rehabilitasi yang bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan.
Tips utama untuk tetap aman dalam berlatih adalah dengan melakukan latihan spesifik “internal dan external rotation” secara rutin. Latihan ini bertujuan untuk membangun ketahanan pada tendon sehingga mampu menahan beban tarikan air yang berat saat melaju cepat. Selain itu, para pelatih sangat menyarankan penggunaan perlengkapan tambahan seperti paddles dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan, karena penggunaan paddles yang terlalu besar secara instan dapat meningkatkan beban pada tendon dapat Robek Rotator Cuff secara drastis sebelum otot siap menerimanya. Keseimbangan antara kekuatan otot depan dan belakang tubuh harus dijaga agar posisi bahu tetap stabil di tengah sendinya.
Dalam lingkungan latihan di wilayah Sabang, pendekatan pemulihan juga melibatkan kearifan lokal seperti pemijatan ringan oleh ahli yang mengerti anatomi dan penggunaan air hangat untuk relaksasi otot setelah sesi latihan di perairan terbuka atau kolam. Nutrisi yang kaya akan protein dan kolagen juga menjadi bagian dari rekomendasi untuk mendukung regenerasi jaringan tendon yang rusak secara alami. Atlet diajarkan untuk tidak memaksakan diri melewati ambang batas nyeri yang bersifat “tajam”, karena nyeri tajam adalah indikator bahwa ada jaringan yang sedang mengalami kerusakan struktural, bukan sekadar kelelahan otot biasa.
