Di balik gemerlap fasilitas rekreasi modern saat ini, tersimpan Sejarah Gelap Kolam Renang di Indonesia. Sebelum kemerdekaan, kolam renang bukanlah tempat rekreasi untuk semua. Aksesnya sangat terbatas, mencerminkan hierarki sosial yang kejam di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Ini adalah babak kelam di mana kesenangan menjadi privilese, bukan hak.
Pada era Hindia Belanda, pembangunan kolam renang seringkali ditujukan untuk kenyamanan para penjajah dan segelintir bangsawan pribumi. Fasilitas seperti Kolam Renang Cihampelas di Bandung adalah contoh nyata. Mereka dibangun dengan standar tinggi, namun hanya untuk segmen masyarakat yang sangat sempit dan berkuasa.
Sejarah Gelap Kolam Renang ini memperlihatkan bagaimana ruang publik pun menjadi alat diskriminasi. Plang bertuliskan “Alleen voor Europeanen” (Hanya untuk Eropa) atau “Verboden voor Inlanders” (Dilarang untuk Pribumi) bukan pemandangan asing. Ini adalah bentuk apartheid yang nyata di fasilitas rekreasi.
Pembatasan akses ini tidak hanya berdasarkan ras, tetapi juga status sosial. Bahkan di antara pribumi, hanya mereka yang memiliki kedudukan tinggi atau terkait erat dengan elite kolonial yang diizinkan masuk. Ini menciptakan jurang pemisah yang lebar dalam masyarakat.
Alasan di balik pembatasan ini adalah upaya untuk menjaga “kemurnian” ras dan status sosial penjajah. Mereka ingin mempertahankan gaya hidup Eropa dan menghindari interaksi langsung dengan pribumi di ruang-ruang santai, menegaskan dominasi mereka.
Dampak dari Sejarah Gelap Kolam Renang ini sangat mendalam. Rakyat jelata pribumi tidak hanya kehilangan akses hiburan, tetapi juga merasa terpinggirkan dan direndahkan. Ini memperkuat sentimen anti-kolonial dan memperdalam rasa ketidakadilan yang dirasakan.
Meskipun ada beberapa kolam renang yang dikelola pribumi atau misionaris, jumlahnya sangat sedikit dan fasilitasnya jauh dari standar kolam renang elite Eropa. Kesenjangan fasilitas ini adalah cerminan dari kesenjangan sosial yang lebih luas.
Sejarah Gelap Kolam Renang juga menjadi pengingat betapa berharganya kemerdekaan. Setelah proklamasi, fasilitas-fasilitas ini secara bertahap dibuka untuk umum. Kolam renang yang tadinya simbol penindasan, kini menjadi ruang rekreasi bagi semua rakyat Indonesia.
