Sabang kembali menjadi pusat perhatian dalam dunia olahraga air melalui penyelenggaraan rapat koordinasi yang sangat strategis. Pertemuan ini tidak hanya sekadar ajang berkumpulnya para pemangku kepentingan, melainkan sebuah langkah nyata untuk menjawab tantangan kekurangan tenaga ahli di sektor kepelatihan. Fokus utama yang diangkat dalam pertemuan ini adalah urgensi pengembangan Rapat Koordinasi Sabang SDM agar standar kualitas pembinaan atlet di wilayah ini dapat meningkat secara signifikan dan merata.
Kualitas seorang atlet sangat ditentukan oleh siapa yang membimbingnya di tepi kolam. Tanpa instruksi yang tepat secara teknik dan metodologi, bakat alami seorang atlet akan sulit untuk berkembang secara optimal. Oleh karena itu, keberadaan pelatih renang yang memiliki kompetensi tinggi menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Melalui koordinasi di Sabang, disepakati bahwa jalur pendidikan dan pelatihan pelatih harus diperpendek dan dipermudah aksesnya, namun dengan tetap menjaga standar kelulusan yang ketat.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah mengenai standarisasi legalitas formal. Memiliki pelatih yang berlisensi bukan hanya soal memiliki sertifikat di atas kertas, melainkan bukti bahwa pelatih tersebut telah menguasai ilmu kepelatihan modern, mulai dari pemahaman fisiologi, psikologi olahraga, hingga penanganan cedera. Di era sekarang, ilmu pengetahuan olahraga atau sport science terus berkembang pesat. Pelatih yang tidak mengikuti pembaruan ilmu melalui proses lisensi akan tertinggal dan berisiko memberikan metode latihan yang usang atau bahkan berbahaya bagi atlet.
Dalam Rapat Koordinasi tersebut, ditekankan bahwa Sabang memiliki potensi untuk menjadi pusat pelatihan (training center) unggulan karena fasilitas dan kondisi alamnya yang mendukung. Namun, fasilitas mewah sekalipun akan sia-sia jika tidak dikelola oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Program kerja tahun mendatang akan difokuskan pada pengiriman pelatih lokal untuk mengikuti kursus tingkat nasional dan internasional, serta mengundang instruktur ahli untuk memberikan workshop di daerah.
Distribusi pelatih yang memiliki lisensi resmi juga menjadi perhatian dalam diskusi ini. Sering kali, pelatih berkualitas hanya menumpuk di kota-kota besar, sementara daerah pinggiran kekurangan tenaga ahli. Melalui program pemerataan, diharapkan setiap klub renang yang bernaung di bawah organisasi resmi memiliki setidaknya satu pelatih kepala yang tersertifikasi. Hal ini akan menciptakan standar latihan yang sama bagi seluruh atlet, sehingga persaingan di tingkat daerah menjadi lebih kompetitif dan sehat.
