Kota Sabang, yang terletak di ujung utara Pulau Weh, kembali menjadi pusat perhatian dunia sains pada tahun 2026. Kali ini bukan karena keindahan terumbu karangnya yang melegenda, melainkan karena kemampuan fisik para penyelam tradisionalnya yang dianggap melampaui batas normal manusia. Sebuah fenomena unik ditemukan di mana beberapa penduduk lokal mampu melakukan napas 5 menit atau menahan napas di dalam air (static apnea) sambil tetap melakukan aktivitas fisik yang cukup berat di dasar laut. Hal ini memicu tim peneliti internasional untuk datang dan menyelidiki rahasia di balik ketahanan fisik yang luar biasa tersebut.
Bagi manusia pada umumnya, menahan napas selama lebih dari dua menit tanpa alat bantu adalah sebuah tantangan besar yang berisiko menyebabkan kekurangan oksigen ke otak. Namun, bagi para penyelam di Sabang, durasi lima menit adalah hal yang lazim mereka lakukan saat mencari komoditas laut yang berharga di kedalaman. Penelitian medis awal di tahun 2026 menunjukkan bahwa ada kombinasi antara adaptasi genetik jangka panjang dan teknik pernapasan tradisional yang mereka pelajari sejak kecil. Para ilmuwan menemukan bahwa limpa para penyelam ini cenderung lebih besar dibandingkan manusia rata-rata, yang memungkinkan tubuh mereka mengeluarkan lebih banyak sel darah merah kaya oksigen saat sedang menyelam.
Selain faktor biologis, rahasia utama dari kemampuan napas 5 menit ini terletak pada metode relaksasi mental yang sangat dalam. Para penyelam Sabang mempraktikkan sebuah teknik yang secara turun-temurun disebut sebagai “diam di dalam air”. Sebelum menyelam, mereka melakukan ritual pengaturan napas yang mirip dengan teknik pranayama dalam yoga, di mana denyut jantung mereka diturunkan hingga level paling rendah. Kondisi ini memungkinkan konsumsi oksigen oleh otot menjadi sangat efisien. Para ilmuwan takjub melihat bagaimana para penyelam ini bisa tetap tenang meskipun tingkat karbondioksida di dalam darah mereka sudah mencapai level yang biasanya memicu kepanikan pada orang biasa.
Faktor lingkungan juga memegang peranan penting. Perairan Sabang yang jernih dengan tekanan air yang stabil di tahun 2026 memberikan kondisi ideal bagi tubuh untuk melakukan adaptasi “mammalian dive reflex”. Tekanan air pada kedalaman tertentu justru membantu tubuh dalam menghemat energi dan memusatkan aliran darah ke organ-organ paling penting seperti jantung dan otak. Para penyelam lokal seolah memiliki pemahaman intuitif tentang bagaimana tekanan air bekerja terhadap tubuh mereka. Mereka tidak melawan arus atau tekanan, melainkan bergerak harmonis dengan alam, sebuah filosofi yang kini mulai dipelajari oleh para atlet selam bebas (freedive) profesional dari luar negeri.
