Misi Suci PRSI Sabang: Wakaf Sumur Bor di Titik Kekeringan Ekstrem

Sabang, sebagai titik nol kilometer Indonesia, menyimpan keindahan alam yang luar biasa. Namun, di balik pesonanya, wilayah ini seringkali menghadapi tantangan alam yang berat, salah satunya adalah krisis air bersih. Menanggapi kondisi ini, PRSI Sabang meluncurkan sebuah Misi Suci yang bertujuan untuk memberikan solusi jangka panjang bagi masyarakat terdalam. Fokus utamanya bukan lagi sekadar bantuan temporer, melainkan penyediaan infrastruktur dasar melalui program wakaf.

Kekeringan di beberapa titik di Sabang telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Pada musim kemarau panjang, sumber air permukaan mengering, memaksa warga harus menempuh jarak berkilo-kilometer atau mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendapatkan beberapa liter air. Di sinilah PRSI Sabang hadir dengan inisiatif Wakaf Sumur Bor. Program ini menyasar wilayah-wilayah yang dikategorikan sebagai daerah dengan kerawanan tinggi atau berada di titik sentral aktivitas warga namun kekurangan akses air.

Pemilihan metode sumur bor dianggap sebagai langkah paling presisi untuk mengatasi kekeringan ekstrem. Berbeda dengan sumur gali biasa yang mudah kering saat kemarau, sumur bor mampu menjangkau akuifer yang lebih dalam, sehingga ketersediaan air dapat terjamin sepanjang tahun. Proses penentuannya pun tidak sembarangan. Tim dari PRSI bekerja sama dengan ahli geologi untuk memetakan titik koordinat yang tepat agar air yang dihasilkan tidak hanya melimpah secara kuantitas, tetapi juga layak secara kualitas (higienis).

Istilah “Misi Suci” yang disematkan dalam program ini bukanlah tanpa alasan. Bagi masyarakat Sabang, air adalah sumber kehidupan sekaligus sarana ibadah. Dengan adanya akses air yang mudah, aktivitas harian seperti memasak dan mandi menjadi lebih ringan, dan kebutuhan untuk sanitasi tempat ibadah serta sekolah-sekolah di pelosok dapat terpenuhi. PRSI Sabang memposisikan diri mereka sebagai jembatan antara para pewakaf dan masyarakat yang membutuhkan, memastikan bahwa setiap bantuan yang masuk dikonversi menjadi manfaat yang terus mengalir tanpa henti (amal jariyah).

Tantangan di lapangan tentu sangat besar. Medan yang berbatu dan akses transportasi alat berat ke beberapa titik lokasi menjadi kendala utama. Namun, dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas para pegiat olahraga air ini, rintangan tersebut satu per satu dapat teratasi. Para atlet muda Sabang bahkan seringkali ikut serta dalam proses mobilisasi material secara manual, menunjukkan bahwa dedikasi mereka terhadap daerahnya sangatlah totalitas.